Iman Tak Cukup Hanya “PERCAYA”

Dalam Kitab Suci dapat diketahui dengan pasti bahwa ternyata tidak cukup seorang disebut beriman hanya karena dia “percaya” akan adanya Allah atau Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Ini dapat kita simpulkan, misalnya dari firman : “Dan jika engkau (Muhammad) bertanya kepada mereka (kaum musyrik), Siapa yang menciptakan langit dan bumi ? Pasti mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimana mereka dapat terpalingkan (dari kebernaran) ?” (QS al-Zukhruf/43:87)

Ayat suci yang bernada seperti itu cukup banyak dalam Al-Qur’an yang kesemuanya menggambarkan bahwa penduduk Makkah yang menentang Nabi percaya adanya Allah, Tuhan Maha Pencipta (Khaliq) yang menciptakan langit dan bumi. Namun sama sekali mereka tidak disebut sebagai kaum yang beriman, bahkan dengan tegas dikutuk sebagai kaum musyrik. Ini menunjukan adanya sesuatu yang sangat penting yang harus ada disamping sikap percaya akan adanya Allah swt. Sebabnya ialah meskipun penduduk Makkah zaman itu “percaya” akan adanya Allah, namun mereka itu tidak “mempercayai” Allah itu. Sebaliknya mereka lebih “mempercayai” berhala-berhala mereka, sehingga kepada berhala-berhala itulah mereka minta perlindungan, pertolongan, keselamatan dan sebagainya. Dan persis inilah yang disebut syirik, sikap “mempercayai” sesuatu selain Allah sendiri sebagai bersifat ketuhanan (ilahi), kemudian memperlakukan sesuatu selain Allah sama dengan perlakuan kepada Allah yang sebenarnya, seperti menyembah, misalnya. Jadi bagi mereka Allah mempunyai “syirk” (syarik) dan sebutan “musyrik) untuk pelakunya.

Maka dalam sistem peristilahan bahasa kita, persoalannya adalah bahwa kita tidak cukup hanya “percaya” kepada Allah (seperti orang-orang Makkah dahulu), tetapi harus pula     “mempercayai Allah itu dalam kualitas-Nya sebagai satu-satunya yang bersifat keIlahian dan Ketuhanan, dan sama sekali tidak memandang adanya kualitas serupa kepada sesuatu apapun yang lain. Selanjutnya, dan sebagai konsekuensinnya, karena kita “mempercayai” Allah, maka kita harus bersandar sepenuhnya kepada Allah. Allah-lah tempat menggantungkan harapan, kita optimis kepada Allah, berpandangan positif kepada Allah, menaruh kepercayaan kepada Allah, dan “bersandar” (tawakal) sepenuhnya kepada Allah.

Jika kita berhasil mewujudkan ini semua dalam diri kita, maka kita benar-benar telah bertauhid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: