BAPAK BUPATI YANG TERHORMAT

Suatu hari sebuah pesantren di Jawa Timur kedatangan Bupai setempat. Pak Kiyai pesantren itu cukup akrab dengan Pak Bupati, sehingga tidak saja kedatangan pejabat itu disambut denagn hangat olehnya, bahkan percakapan antara keduanya pun berlangsung tanpa formalitas yang kaku.

Pak Kiyahi memberi kesempatan kepada Pak Bupati untuk berceramah kepada santri dan guru. Maka terjadilah sedikit adegan yang walaupun santai dan rileks namun amat menarik dan mengandung makna yang kiranya patut kita renungkan. Dalam ceramahnya, setelah mengucapakn salam Pak Bupati memulai denagn kalimat yang kedengaran wajar dan semestinya saja. Katanya “Bapak Kiyahi yang saya hormati…” Tiba-tiba Pak Kiyahi berdiri dan menghampiri microfon dan lalu berkata, “Nanti dulu, Pak Bupati! “Saya memang sudah tahu bahwa Pak Bupati menghormati saya, dan untuk itu saya ucapkan terimakasih. Tapi, soalnya, apakah saya ini memang terhormat, ataukah hanya kebetulan di hormati oleh Pak Bupati? Dan kalau saya memang terhormat, mengapa Pak Bupati tidak mengatakan saja, Bapak Kiyahi yang terhormat? Dan saya tidak peduli apakah Pak Bupati atau oarang lain menghormati saya atau tidak, kalau memang benar-benar saya ini terhormat, dan tidak sekedar kebetulan dihormati orang tertentu saja!”

Maka Pak Bupatipun, dengan penuh pengertian, meralat ucapannya, dan dia pun berkata, Bapak Kiyahi yang terhormat…Demikian pula pak Kiyahi, ketika gilirannya tiba untuk memberi sambutan,setelah salam dia memulai denaan ungkapan penuh tulus, Bapak Bupati yang terhormat… (Bukannya, “Bapak Bupati yang saya hormati…”) Dan Pak Kiyahi masih merasa perlu menerangkan perihal hormat-menghormati ini. Dijelaskannya bahwa dengan mengatakan Bapak Bupati yang terhormat, Pak Kiyahi hendak menunjukkan suatu kualitas pada Pak Bupati tergantung kepada siapapun, termasuk kepada Pak Kiyahi sendiri. Karna itu Pak Bupati tidak usaha mengharap penghormatan oarang tertentu sebab kehormatan Pak Bupati itu melekat pada diri Pribadi Pak Bupati, tanpa peduli sikap oarang lain kepadanya.

Pak Kiyahi malah mengatakan bahwa dia sedikit tersinggung dengan ucapan, Bapak Kiyahi yang saya hormati. Sebab seolah-oalh dia mengharap di hormati oleh Bapak Bupati, atau kehormatan Pak Kiyahi itu ada hanya karena dihormati oleh Pak Bupati. Apalagi dalam bahasa-bahasa asing, seperti arab atau inggris tidak ada ungkapan yang sepadan dengan “…Yang saya hormati.” Hanya ada yang sepadan dengan”…Yang terhormat.”

Para Kiyahi memang sering menunjukkan kepekaan dan kehalusan perasaan yang menakjubkan. Karena merenungi berbagai segi ajaran agama secara mendalam, juga karena pergaulan yang akrab denagn masyarakat luas, para kiyahi sering mampu menangkap hal-hal dalam hidup ini yang tidak tertangkap oleh orang kebanyakan. Dalam hal kehormatan itu, misalnya, para kiyahi tidak mengharap agar orang menghormatinya. sebab mereka yakin bahwa kehormatan itu hanya datang dari Allah, karena adanya itikad baik dan amal saleh. Firman Allah, “Dan barang siapa menghendaki kehormatan, maka (ketahuilah bahwa) kehormatan itu seluruhnya milik Allah. Kepada-nya menaik perkataan (itikad) yang baik dan Dia pun menjunjung amal yang saleh…” (QS. Fathir/35:10). Tentu saja firman itu tidak hanya berlaku bagi kiyahi, tapi juga bagi semua kita orang yang beriman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: